Senin, 25 Juni 2012




 A.PENGERTIAN DASAR  IMUNISASI
1. Reaksi Antigen-Antibodi
Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk (Gambar 1).
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas (gambar 2).
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut (gambar 3).
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar.
Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan
Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:
(1)   Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh, maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa antibodi atau antitoksin
(2)   Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah, sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.
(3)   Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti, sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.
(4)   Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/imunisasi ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.



-          Reaksi antigen-antoibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh terhadap  penyakit.
-          Kadar antibodi yang tinggi dalam darah menjamin anak anda terhindar dari penyakit.
-          Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan cara pemberian imunisasi
-          Untuk mempertahankan kadar antibodi yang tinggi, diperlukan imunisasi ulang dalam waktu-waktu tertentu.





Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuh? Pada tempat-tempat yang strategis terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa , kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher, ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonil merupakan kelenjar getah bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam.
Berbagai alat tubuh yang disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia. Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”.
2. Jenis Vaksin
Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak, …. dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi. Diantara penyakit berbahaya tersebut termasuk penyakit cacar, tbc, difteri, tetanus, batuk rejan, poliomielitis, kolera, tifus, para tifus campak, hepatitis B dan demam kuning terhadap penyakit tersebut telah dapat dibuat vaksinnya dalam jumlah besar, sehingga harganya terjangkau oleh masyarakat luas.
 Di negara yang sudah berkembang beberapa vaksin khusus telah pula diproduksi, misalnya terhadap penyakit radang otak, penyakit gondok, campak Jerman (rubela) dan sebagainya. Bahkan beberapa vaksin yang sangat khusus dapat pula dibuat, tetapi harganya akan sangat mahal karena penggunaan yang terbatas. Untuk kepentingan masyarakat luas, di beberapa negara sedang dijajagi kemungkinan pembuatan vaksin berbahaya dan merugikan, misalnya vaksin terhadap malaria dan demam berdarah.
Karena penyakit tersebut di atas sangat berbahaya, pemberian imunisasi dengan cara penyuntikan kuman/antigen murni akan menyebabkan anak anda benar-benar menjadi sakit. Maka untuk itu diperlukan pembuatan suatu jenis vaksin dari kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan terlebih dahulu, sehingga tidak membahayakan dan tidak akan menimbulkan penyakit. Bahkan sebaliknya, kuman penyakit yang sudah dilemahkan itu merupakan rangsangan bagi tubuh anak untuk membuat zat anti terhadap penyakit tersebut. Akibat suntikan imunisasi dengan jenis kuman tersebut reaksi tubuh anak pun hanya berupa demam ringan yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.



Vaksin ialah suatu bahan yang terbuat dari kuman atau racunnya yang telah dilemahkan atau dimatikan. Pemberian vaksin akan merangsang tubuh anak untuk membuat antibodi


 Pada dasarnya vaksin dibuat dari: (1) kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan, (2) zat racun kuman (toksin) yang telah dilemahkan, (3) bagian kuman tertentu yang biasanya berupa protein khusus.
-          Contoh vaksin yang terbuat dari kuman yang dimatikan: vaksin batuk rejan, vaksin polio jenis salk.
-          Contoh vaksin yang terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan: vaksin BCG, vaksin polio jenis sabin, vaksin campak
-          Contoh vaksin yang terbuat dari racun/toksin kuman yang dilemahkan (disebut pula toksoid): toksoid tetanus dan toksodid difteri.
-          Contoh vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman: vaksin hepatitis B
3. Imunisasi aktif dan Imunisasi Pasif
Ada 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Berikut ini akan diuraikan arti dan perbedaan kedua jenis imunisasi tersebut.
Berbagai jenis vaksin yang dikemukakan di atas bila diberikan pada anak anda merupakan contoh pemberian imunisasi aktif. Dalam hal ini tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah suatu rangsangan antigen dari luar tubuh, misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio atau imunisasi campak. Setelah rangsangan ini kadar anti dalam tubuh anak akan meningkat, sehingga anak menjadi imun atau kebal. Jelaslah bahwa pada imunisasi aktif, tubuh anak sendiri secara aktif akan menghasilkan zat anti setelah adanya rangsangan vaksin dari luar tubuh.
Berlainan halnya dengan imunisasi pasif. Dalam hal ini imunisasi dilakukan dengan penyuntikan sejumlah zat anti, sehingga kadarnya dalam darah akan meningkat. Zat anti yang disuntikkan tadi biasanya telah dipersiapkan pembuatannya di luar tubuh anak, misalnya zat anti yang terdapat dalam serum kuda yang telah dimurnikan. Jadi pada imunisasi pasif, kadar zat anti yang meningkat dalam tubuh anak itu bukan sebagai hasil produksi tubuh anak sendiri, tetapi secara pasif diperoleh karena suntikan atau pemberian dari luar tubuh. Contoh imunisasi pasif ialah pemberian ATS (Anti Tetanus Serum) pada anak yang mendapat luka kecelakaan. Serum anti tetanus ini diperoleh dari darah kuda yang mengandung banyak zat anti tetanus. Contoh imunisasi pasif lain terjadi pada bayi baru lahir. Bayi itu menerima berbagai jenis zat anti dari ibunya melalui darah uri (plasenta), misalnya zat anti terhadap penyakit campak ketika bayi masih dalam kandungan ibu.
Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah:
(1)    Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif.
(2)    Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun), sedangkan pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk 1 – 2 bulan.

-          Imunisasi aktif: tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama bertahun-tahun.
-          Imunisasi pasif: tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti. Si anak mendapatnya dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat anti.
-          Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.

Pemberian imunisasi pada anak biasanya dikerjakan dengan cara imunisasi aktif, karena imunisasi aktif akan memberi kekebalan yang lebih lama. Imunisasi pasif diberikan hanya dalam keadaan yang sangat mendesak, yaitu bila diduga tubuh akan belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit yang ganas.
Kadang-kadang imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu yang bersamaan, misalnya pada penyakit tetanus. Bila seorang anak terluka dan diduga akan terinfeksi kuman tetanus, maka ia memerlukan pertolongan sementara yang harus cepat dilakukan. Saat itu belum pernah mendapat imunisasi tetanus, karena itu ia diberi imunisasi pasif dengan penyuntikan serum anti tetanus. Untuk memperoleh kekebalan yang langgeng, saat itu juga sebaiknya mulai diberikan imunisasi aktif berupa penyuntikan toksoid tetanus. Kekebalan pasif yang diperoleh dengan penyuntikan serum anti tetanus hanya berlangsung selama 1 – 2 bulan.
Secara alamiah imunisasi aktif mungkin terjadi, sehingga tanpa disadari sebenarnya tubuh si anak telah menjadi kebal. Keadaan demikian pada umumnya hanya terjadi pada penyakit yang tergolong ringan, tetapi jarang sekali pada penyakit yang berat. Misalnya penyakit tifus, yang pada anak tidak tergolong penyakit berat. Tanpa disadari seorang anak dapat menjadi kebal terhadap penyakit tifus secara alamiah.
Mungkin ia telah mendapat kuman tifus tersebut dalam jumlah yang sangat sedikit, misalnya dari makanan yang kurang bersih, jajan dan sebagainya. Akan tetapi kekebalan yang diperoleh secara alamiah ini sukar diramalkan, karena seandainya jumlah kuman tifus yang masuk dalam tubuh itu cukup banyak, maka penting pula untuk diperhatikan bahwa jaminan imunisasi terhadap tertundanya anjak dari suatu penyakit, tidaklah mutlak 100%. Dengan demikian mungkin saja anak anda terjangkit difteria, meskipun ia telah mendapat imunisasi difteria.
 Akan tetapi penyakit difteria yang diderita oleh anak anda yang telah mendapat imunisasi akan berlangsung sangat ringan dan tidak membahayakan jiwanya. Namun demikian tetap dianjurkan: “Meskipun bayi/anak anda telah mendapat imunisasi, hindarkanlah ia dari hubungan dengan anak lain yang sedang sakit”.
4. Pelaksanaan Imunisasi
Dalam kebijakan melaksanakan imunisasi perlu dipertimbangkan dua hal: (1) manfaat imunisasi beserta komplikasi atau efek samping yang mungkin timbul, (2) akibat buruk dan bahaya penyakit tersebut. Bila yang pertama akan lebih memberikan manfaat dibandingkan dengan yang kedua, maka imunisasi dapat dilaksanakan. Sebaliknya bila manfaat imunisasi dinilai kurang dan komplikasi akibat imunisasi cukup b berbahaya, sedangkan akibat buruk penyakit tidak ada, maka imunisasi tidak perlu dilaksanakan karena risikonya terlampau tinggi.. beberapa contoh akan dikemukakan berikut ini:
1)      Seperti tertera pada tabel 1 berikut ini, penyakit campak dapat mengakibatkan komplikasi yang sangat berat dan membahayakan, yaitu radang otak, radang paru, kejang, bahkan kematian. Imunisasi pun tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya komplikasi. Akan tetapi kejadian berbagai komplikasi tersebut jauh lebih tinggi pada penyakit campak akibat infeksi alamiah dibandingkan dengan kejadian akibat imunisasi. Maka nyata sekali perlu dilaksanakan imunisasi terhadap campak.
2)      Sampai dengan tahun 1978 diperlukan imunisasi terhadap penyakit cacar, karena penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia dan merupakan penyakit yang berbahaya. Masalah yang menonjol pada waktu itu ialah di satu pihak akibat buruk penyakit, di pihak lain manfaat imunisasi yang sangat besar walaupun tidak luput dari komplikasinya. Sebaliknya pada saat ini ancaman penyakit cacar sama sekali tidak ada, karena penyakit ini sudah lenyap terberantas. Bila pada dewasa ini dilaksanakan imunisasi cacar, maka yang akan nampak bukan manfaatnya tetapi komplikasinya, yaitu radang otak atau kejang meskipun kejadiannya jarang. Dengan demikian kebijakan yang ditempuh pada saat ini ialah menghapuskan pemberian imunisasi terhadap penyakit cacar.
3)      Pemberian imunisasi batuk rejan masih diperlukan, khususnya pada anak balita karena komplikasi batuk rejan dapat berakhir dengan kematian. Tetapi komplikasi akibat imunisasi pun masih cukup tinggi, khususnya pada anak yang berumur lebih dari 5 tahun. Berdasarkan kenyataan ini, imunisasi batuk rejan hanya diberikan pada golongan balita; bagi golongan anak berumur lebih dari 5 tahun lebih mudah mengobati batuk rejannya ketimbang menanggung risiko imunisasi yang berat.

Tabel 1.          Perbandingan kejadian komplikasi penyakit campak antara anak yang terinfeksi secara alamiah dan akibat imunisasi
No.
Jenis Komplikasi
Infeksi alamiah setiap 100.000 anak
Imunisasi
setiap 100.000
suntikan
Perbandingan risiko imunisasi dan infeksi
1
2

3
4
Radang otak
Radang paru

Kejang
Kematian
50 – 400
3.800 – 7.300

500 – 1.000
10 – 10.000
0,1
0

0,02 – 0,1
0,02 – 0,3
1 : 2.500
Tidak ada risiko pada imunisasi
1 : 10.000
1 : 3.500
Sumber: Modifikasi WHO Chronicle 38:97 (1984)

III. JENIS IMUNISASI
Sesuai dengan program pemerintah (Departemen Kesehatan) tentang Program Pengembangan Imunisasi (PPI), maka anak anda diharuskan mendapat perlindungan terhadap 6 jenis penyakit utama, yaitu: penyakit TBC (dengan pemberian vaksin BCG), difteria, tetanus, batuk rejan, poliomielitis dan campak.
Imunisasi lain yang dianjurkan di Indonesia pada saat ini ialah terhadap penyakit kolera, tifus, paratifus A-B-C, rabies dan mungkin terhadap hepatitis B. Masih terdapat pertentangan terhadap pemberian imunisasi anjuran ini, baik karena cara pemberiannya yang tidak praktis, mutu vaksin yang belum memadai, maupun karena manfaatnya yang diragukan. Sekelumit penjelasan akan diuraikan berikut ini.
Manfaat imunisasi tifus dan paratifus A-B-C cukup besar. Tetapi imunisasinya ringan dan tidak separah seperti pada orang dewasa.
 Program Pengembangan Imunisasi dari Pemerintah:
Mewajibkan anak anda mendapat imunisasi dasar terhadap 6 penyakit: TBC, difteria, tetanus, batuk rejan, polio dan campak. Imunisasi terhadap penyakit lain (kolera, tifus, paratifus A-B-C, hepatitis B) tidak diwajibkan, tetapi dianjurkan.
Demikian pula halnya dengan vaksinasi kolera yang manfaatnya masih diragukan. Sebagian mengatakan bahwa pemberian vaksin kolera terhadap penduduk di daerah muntaber ada manfaatnya, akan tetapi banyak pula yang menentang kebenaran pendapat tersebut. Dalam pemberantasan penyakit kolera/muntaber, Departemen Kesehatan tidak menganjurkan vaksinasi kolera, tetapi lebih menekankan terhadap perbaikan kesehatan lingkungan, seperti tersedianya air bersih, tempat sampah, jamban dan sebagainya. Dewasa ini sedang diteliti kemungkinan pembuatan vaksin kolera yang diberikan melalui mulut (oral); khasiatnya mungkin lebih baik daripada pemberian melalui suntikan.
Penyakit cacar merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya. Tetapi sejak tahun 1980 WHO (World Health Organization : Organisasi Kesehatan Dunia) sudah menghentikan vaksinasi cacar karena dianggap penyakit cacar telah musnah dan tidak ditemukan lagi sejak tahun 1973. Gagasan WHO ini menjadi landasan kebijakan Departemen Kesehatan untuk menghentikan pelaksanaan vaksinasi cacar di Indonesia pada tahun 1980. karena itu vaksinasi cacar tidak termasuk ke dalam Program Pengembangan Imunisasi. Dengan demikian pada banyak tempat pelayanan kesehatan tidak dilakukan lagi vaksinasi cacar.
Akan tetapi WHO menghimbau supaya masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan timbulnya kembali penyakit cacar. Dalam menghadapi kemungkinan tersebut WHO telah membuat persediaan vaksin cacar yang memadai, masing-masing di Geneve dan di New Delhi. Seandainya ditemukan kembali penyakit cacar, vaksinnya siap dikirim ke seluruh pelosok dunia dalam waktu 24 jam.
Bergantung kepada kebijakan pemerintah setempat, di beberap negara dapat dilaksanakan pemberian imunisasi terhadap penyakit campak Jerman (rubela), penyakit gondong/bengok (parotitis), radang otak, demam kuning, radang hati (hepatitis B) dan sebagainya. Di Indonesia penggunaan vaksin tersebut secara menyeluruh masih memerlukan berbagai pertimbangan. Di antara berbagai jenis hepatitis B akan mendapat prioritas utama. Dalam beberapa tahun terakhir ini dilaporkan cukup banyak kasus “penyakit lever” atau kanker hati. Penyakit ini disebabkan karena terinfeksinya penderita oleh virus Hepatitis V.
Selanjutnya sedang dikembangkan dan diteliti kemungkinan pemberian imunisasi terhadap berbagai penyakit malaria, penyakit saluran nafas, demam berdarah dan penyakit keganasan/kanker. Khususnya terhadap vaksin demam berdarah diharapkan dapat disajikan kepada masyarakat dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Selain itu berbagai pusat penelitian mengusahakan pula peningkatan muu terhadap vaksin yang sekarang telah beredar, misalnya terhadap vaksin batuk rejan, kolera, tifus dan paratifus A-B-C.
 IV. IMUNISASI WAJIB
PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI)
Jenis imunisasi ini mencakup vaksinasi terhadap 6 penyakit utama, yaitu BCG, DPT, Polio dan Campak. Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran Pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 6 penyakit utama pada tahun 1990 dapat tercapai.
1. Vaksin BCG
Vaksinasi dan jenis vaksin: pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan.
Penjelasan penyakit: di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang, penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi.
Seorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu mengidap penyakit TBC. Tetapi hal ini jarang terjadi. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh. Yang diserangnya ialah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat. Salah satu dari sekian banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imunisasi BCG. Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TBC dapat diberantas dan kejadian TBC yang berat dapat dihindari.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 2 bulan. Setiap 5 tahun imunisasi diulang 9lihatlah jadwal pemberian imunisasi, hal 61). Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG.
Tetapi bila imunisasi BCG akan dilakukan secara massal (misalnya di sekolah, RT/RW, perusahaan, pabrik), maka pemberian suntikan BCG dilaksanakan secara langsung tanpa uji Mantoux terlebih dahulu. Hal ini dilakukan mengingat pengaruh beberapa faktor, seperti segi teknis penyuntikan BCG, keberhasilan program imunisasi, segi epidemiologik dan lain-lain. Penyuntikan BCG tanpa dilakukan uji Mantoux pada dasarnya tidaklah membahayakan. Namun seandainya orang tua merasa bimbang karena anak anda dengan tidak terduga mendapat imunisasi BCG di sekolah, sebaiknya anda bertanya kepada dokter atau petugas kesehatan lain.
Bila pemberian imunisasi BCG itu “berhasil”, setelah beberapa Minggu di tempat suntikan akan terdapat benjolan kecil. Tempat suntikan itu kemudian berbekas. Kadang-kadang benjolan tersebut bernanah, tetapi akan menyembuh sendiri meskipun lambat. Biasanya penyuntikan BCG dilakukan di lengan kanan atas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas dan mengingat segi kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta suntikan di paha kanan atas.
Kekebalan : Seperti telah diuraikan di atas, jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak anda akan terhindar sama sekali dari penyakit TBC. Seandainya bayi yang telah mendapat imunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC ini dalam bentuk yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan membahayakan jiwa anak anda.
Reaksi imunisasi: biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi dengan dokter.
Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam. Dalam masalah komplikasi yang ringan ini, bila terdapat keraguan dipersilahkan anda berkonsultasi dengan dokter.
Indikasi kontra: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

-          Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan sedini-dininya, dalam waktu beberapa hari setelah bayi lahir.
-          Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian secara massal.
-          Imunisasi BCG secara massal tanpa didahului uji Mantoux, tidak membahayakan.
-          Dengan imunisasi BCG akan anda akan bebas terjangkit penyakit TBC. Setidak-tidaknya ia terhindar dari penyakit TBC yang berat dan parah.
2. Vaksin DPT (Difteriaa, Pertusis, Tetanus)
Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Anda dapat memperolehnya dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel).
Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun (sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan.
Dalam hal imunisasi ulang ini anda tidak perlu cemas, seandainya anak mendapat suntikan ulang sebelum waktunya. Kejadian demikian sering dialami para ibu. Dokter harus memberikannya bila terjadi kontak antara anak dengan penderita lain, misalnya penyakit difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus. Demikian pula dalam keadaan yang meragukan atau mencurigakan, biasanya dokter akan memberikan suntikan ulang. Para ahli telah sepakat, bahwa lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.
Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.
Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian.
Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak. Dokter akan mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan.
3. Vaksin  DT (difteria, Tetanus)
Jenis vaksin: vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya anak anda tidak diperbolehkan atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteria atau tetanus.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan pada imunisasi DPT.
Efek samping: akibat samping biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat suntikan selama 1 – 2 hari.
Indikasi kontra: hanya pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih dapat diberikan imunisasi DT.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara terinci mengenai masing-masing vaksin difteria, tetanus dan pertusis.
4. Vaksin Difteria
Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan (=toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT.
Penjelasan penyakit: Di Indonesia difteri masih banyak dijumpai, bahkan mungkin timbul secara luas dalam waktu bersamaan. Di negara maju pun difteri masih belum lenyap, misalnya di Amerika Serikat masih terdapat di pelosok perkotaan yang penduduknya padat dan kurang mampu.
Penyakit difteri disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (carrier), yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang carrier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi carrier.
Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain itu pada tonil (amandel) atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri ialah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi; biasanya disebabkan anak “tercekik” oleh selaput putih pada tenggorok atau karena lemah jantung akibat racun difteri yang merusak jantung.
Cara imunisasi: pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetanus (Vaksin DT) dan batuk rejan (vaksin DPT), sejak bayi berumur 2 bulan (lihatlah jadwal imunisasi hal. 61). Mula-mula diberikan dalam bentuk imunisasi dasar sebanyak 2-3 kali suntikan dengan jarak waktu antara 2 suntikan 4-6 minggu. Kemudian disusul dengan imunisasi ulang pada umur 1 ½ – 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun. Imunisasi ulang sewaktu diperlukan juga bila anak anda berhubungan dengan anak lain yang menderita difteri. Jadi bila anak terjangkit difteri, maka anak lain yang tinggal serumah harus mendapat imunisasi ulang meski pun belum waktunya.
Kekebalan: Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%.
Reaksi imunisasi: Jarang terjadi, mungkin berupa demam ringan selama 1-2 hari.
Efek samping: biasanya tidak ada
Indikasi kontra: Hanya pada anak yang menderita demam tinggi atau sakit parah.
5. Vaksin tetanus
Vaksinasi dan jenis vaksin: Seperti telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal, kombinasi dengan vaksin difteri (vaksin DT), atau kombinasi dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT).
Vaksin untuk imunisasi pasif dikenal dengan ATS (Anti Tetanus Serum). Serum anti tetanus ini diperoleh dengan pengolahan serum yang berasal dari kuda yang mendapat imunisasi aktif tetanus. Serum kuda yang telah diolah itu mengandung banyak zat anti tetanus. Jenis vaksin ini dapat dipakai untuk pencegahan (imunisasi pasif), maupun pengobatan.
Penjelasan penyakit: penyakit tetanus masih terdapat di seluruh dunia, karena kemungkinan anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka, serta muka yang menyeringai serupa “setan”.
Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit ini terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi baru lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Dukung memotong tali pusat dengan memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini, secara berkala Departemen Kesehatan mengadakan kursus perawatan ibu dan bayi terhadap para dukun. Upaya lain untuk pencegahannya ialah pemberian imunisasi aktif kepada ibu hamil pada trimester akhir yang persalinannya diduga akan ditolong oleh dukun.
Seandainya seorang ibu melahirkan bayi yang ditolong oleh dukun dan sebelumnya tidak pernah mendapat imunisasi tetanus, maka seharusnya bayi itu segera dibawa ke dokter/Puskesmas. Gunanya untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit tetanus dengan pemberian Serum Anti Tetanus (ATS). Cara perlindungan terhadap bayi baru lahir ini merupakan contoh suatu imunisasi pasif.
Angka kematian tetanus masih sangat tinggi, yaitu pada bayi baru lahir sebesar 80-90%, pada anak berumur 2-7 tahun sebesar 20-70%, dan pada anak berumur 8-12 tahun adalah 60%. Angka kematiannya pada orang dewasa juga masih tinggi, yaitu 70-80%.
Cara imunisasi: Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan sama dengan imunisasi difteria (lihatlah jadwal imunisasi, hal. 61). Pada imunisasi tetanus, setelah anak berumur 10 tahun masih harus tetap mendapat suntikan ulang secara berkala setiap 5 tahun selama masa hidup selanjutnya.
Pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanus dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing pada kehamilan bulan ke-7 dan ke-8. sevaksinasi (vaksinasi ulang) dilakukan secara berkala setiap 5 tahun.
Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir:
-          Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus pada ibu hamil menjelang kelahiran bayi.
-          Seandainya kelahiran seorang bayi ditolong oleh dukun, bayi secepatnya dibawa ke dokter/puskesmas untuk mendapat imunisasi pasif dengan serum anti tetanus.
Pertanyaan yang sering diajukan oleh ibu tentang imunisasi tetanus ialah: “Bagaimana tindakan seorang ibu seandainya anak mendapat luka karena kecelakaan”. Dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda berkonsultasi kepada dokter/Puskesmas, meskipun anak anda pernah mendapat imunisasi tetanus. Dokter akan mempertimbangkan beberapa kemungkinan tindakan seperti berikut:
(1)   Anak tidak perlu mendapat imunisasi tetanus
(2)   Anak hanya mendapat toksoid tetanus
(3)   Anak mendapat toksoid tetanus dan ATS bersama-sama
Selain luka, di Indonesia sumber utama lain tempat masuknya kuman Clostridium tetani pada anak ialah radang telinga. Orang Jakarta mengatakan “congean”. Gejalanya berupa keluarnya cairan berbau khas dari liang telinga. Bagi anak yang sering menunjukkan gejala keluarnya cairan dari liang telinga dan belum pernah mendapat imunisasi tetanus, sangat dianjurkan untuk mendapatkannya. Karena bila anak terinfeksi tetanus tidak jarang akan berakhir dengan suatu kematian, yang pasti akan sangat disesalkan … hanya karena gara-gara congean!
Kekebalan: daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%.
Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri, rasa gatal dan pembengkakan ringan di tempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari.
Efek samping: Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak efek samping. Pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala, bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS seyogianya di bawah pengamatan dokter.
Indikasi kontra: tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah.

6. Vaksin Pertusis (Batuk rejan, Pertussis)
Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin terbuat dari kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (vaksin DPT, vaksin tripel).
Penjelasan penyakit: penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita, bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dengan wajahnya yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar